Warna-Warni Politik di Indonesia

Warna-Warni Politik di Indonesia
Ilustrasi. (Sumber: KPU Cilacap)

Oleh: Sahril Kadir

CATATAN ini terinspirasi dari aktivitas warga di sebuah perkampungan yang ada di Kota Manado, menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden tahun 2019.

Tepatnya, saat warga mulai berbondong-bondong menaikkan bendera peserta pemilu di halaman rumahnya, dan menawarkannya ke setiap tetangga, hingga akhirnya terdengar heboh.


Ukuran bendera yang dinaikkan bervariasi, mulai dari yang kecil hingga sangat besar. Berdasarkan mimik wajah, masing-masing orang terlihat begitu bersemangat saat menaikkannya.


Memang satu warna bendera tampak mendominasi. Namun bukan tidak mungkin warna lainnya akan ikut dikibarkan di perkampungan itu, entah besok atau lusa.


Di Indonesia, khususnya Sulawesi Utara, partai politik sering diidentikkan warga dengan sebuah warna. Merah, biru langit, biru tua, putih, kuning, dan warna lainnya. Cukup menyebutkan warna, maka setiap orang bisa mengetahui partai politik yang didukung.


Seperti itulah. Politik di Indonesia sangat berwarna. Tidak hanya sekadar berwarna dalam arti yang sesungguhnya, tapi juga dalam makna yang lebih luas lagi. Hal ini bisa diamati secara sederhana lewat berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat menjelang pelaksanaan event politik.


Ada-ada saja yang dilakukan para politisi untuk meraup dukungan sebanyak-banyaknya dari masyarakat. Sosialisasi dengan cara unik tak jarang dilakukan agar minat masyarakat untuk mendukung dan akhirnya memilihnya saat pencoblosan.


Peristiwa atau fenomena di masyarakat juga tak luput dari pantauan, bahkan dijadikan momentum berharga untuk menaikkan popularitas. Sebagai contoh, fenomena demam berdarah dengue (DBD) yang saat ini begitu tinggi, langsung dimanfaatkan mereka dengan melakukan fogging atau cara sejenis.


Padahal, di tahun-tahun sebelumnya, jarang sekali terdengar hal semacam itu dilakukan oleh seorang tokoh atau politisi. Paling tinggi, mereka hanya sibuk mengkritisi kebijakan pemerintah tentang suatu persoalan.


Bukan hanya itu saja. Saat waktu pencoblosan semakin dekat, para politisi, khususnya caleg, juga semakin sibuk menunjukkan eksistensinya di media sosial. Mulai dari merangkai kata-kata motivasi, hingga meng-upload foto atau video saat sedang bersama masyarakat.


Warna ini juga bisa dilihat dari alat peraga kampanye (APK) yang beredar. Karakter APK itu sebenarnya terhitung mirip. Namun yang menarik adalah manakala event politik semakin dekat, maka nyaris setiap daerah seakan menjadi kota atau desa baliho.


Di sisi lain, setiap event politik dipastikan penyelenggara pemilu akan terus melakukan perubahan teknis pelaksanaannya. Yang terkini, tinta yang akan dijadikan kode bahwa seorang pemilih telah memberikan hak pilihnya ikut mengalami perubahan.


Jika sebelumnya hanya ada satu warna tinta saja yang menempel di salah satu jari para pemilih, kini akan ada empat warna tinta. Ya, itu pun, lagi dan lagi, dengan harapan meningkatnya kualitas pemilu.


Meski demikian, kondisi ini sebenarnya sangat baik, karena menunjukkan identitas bangsa Indonesia yang sangat berwarna. Selain itu, hal ini juga, menurut Saya, menunjukkan bahwa politisi kita memiliki pola yang beragam dalam menjalankan ativitas politiknya.


Lebih dari itu, tinggal masyarakat sendiri yang akan menilai siapa saja di antara politisi itu yang layak untuk dipilih nanti, sehingga harapan meningkatnya kualitas hidup masyarakat bisa terealisasi.


(***)

Baca Juga :  Jadi Irup Hari Lahir Pancasila, Tuange Bacakan Sambutan Kaban Pembinaan Ideologi Pancasila
banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply