Nasionalisme Baru Sebatas Teori

Nasionalisme Baru Sebatas Teori
Penulis, Sahril Kadir

TULISAN ini terinspirasi saat Saya bersama keluarga menonton film “Bumi Manusia” di salah satu bioskop ternama di Kota Manado, Jumat 16 Agustus 2019 lalu.

Tapi ini bukan soal membanding-bandingkan antara isi novel hasil karya Pramoedya Ananta Toer dan sinematografinya Sutradara handal Hanung Bramantyo.


Sebab bagaimanapun, setiap orang pasti punya perspektif sendiri ketika membaca maupun menonton sebuah karya, sehingga menghasilkan penilaian yang berbeda pula.


Ini tentang nasionalisme, yang bukan hanya sekadar bahan diskusi saja, bukan sekadar teori, berdasarkan pengalaman saat menonton film tersebut.


Saya ingat sekali saat itu, sebelum film dimulai, layar bioskop tiba-tiba menayangkan gambar bendera Indonesia merah putih, yang diikuti dengan tulisan ajakan untuk menyanyikan lagu ‘Indonesia Raya’ pada bagian bawahnya. “Hadirin dipersilakan berdiri,” isi kalimat terakhir pada tulisan tersebut.


Sebenarnya ini bukan barang baru. Ajakan untuk berdiri dan ikut menyanyikan lagu ‘Indonesia Raya’ sebelum penayangan film di bioskop memang pernah diterbitkan Kemenpora, lewat surat bernomor 1.30.1/Menpora/I/2019, awal tahun ini. Meski pada akhirnya dicabut kembali karena sempat memunculkan kegaduhan.


Namun entah dengan alasan apa, mungkin karena penayangan film ini bertepatan dengan Bulan Peringatan Hari Proklamasi RI, imbauan menyanyikan lagu ‘Indonesia Raya’ tiba-tiba muncul sebelum pemutaran film Bumi Manusia.


Yang menarik justru adalah ajakan tersebut seperti tidak diindahkan para penonton saat itu. Tak satu pun di antara penonton yang berdiri sekaligus ikut menyanyikan lagu kebangsaan ini, termasuk Saya. Semua hanya diam. Adapun salah satu petugas bioskop terlihat seakan seperti berusaha menjadi pemandu lagu.


Saya berusaha menoleh ke kiri, kanan, atas dan bawah bioskop, untuk mencoba menyaksikan reaksi dan respon penonton terhadap pemutaran lagu ini. Yang ada, semuanya hanya diam. Seakan tetap hanya menantikan waktu penayangan film.


Pemandangan ini jauh berbeda ketika pelaksanaan upacara bendera di lapangan maupun pada acara formal lainnya. Semuanya pasti mengambil sikap berdiri sempurna, dan ikut menyanyikan lagu ini bait demi bait.


Sepintas, ini masalah sepele. Hanya tentang ‘Indonesia Raya’. Namun sebenarnya, jika dipikir-pikir, hal ini justru bisa menunjukkan seberapa besar rasa nasionalisme dan penghargaan masyarakat kita terhadap jasa pahlawan kemerdekaan.


Ya, sederhana. Sikap saat mendengarkan pemutaran lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ bisa menjadi bukti bagaimana jiwa nasionalisme kita baru sebatas teori. Meski memang terdengar aneh saat lagu tersebut diputar di dalam bioskop yang menjadi tempat hiburan masyarakat.


Dengan kata lain, kita sudah terlalu banyak bicara dan berdiskusi tentang konsep kerukunan dan persatuan. Namun sebenarnya jiwa nasionalisme pada diri individu-individu masyarakat masih sangat lemah, dan pada akhirnya tak berarti apa-apa.


Makanya, dalam tulisan ini berpemahaman bahwa sudah saatnya nasionalisme benar-benar dijadikan sikap masyarakat, bukan hanya sekadar bahan diskusi atau dialog belaka, dan semua pihak harus mengambil peran. Apa perannya? Serahkan kepada setiap individu, karena memiliki caranya masing-masing.


Penulis: Sahril Kadir, Alumni STAIN Manado


(***)

Baca Juga :  KPU Sulut Optimis Target 77,5 Persen Partisipasi Pemilih Tercapai
banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply