Maknai Pendidikan Hakiki

Maknai Pendidikan Hakiki
Penulis: Elda Roring

SEJARAH pendidikan dimulai sudah sejak lama. Dari beberapa literatur dapat ditemukan bahwa manusia purba juga turut andil dalam sejarah pendidikan itu sendiri.

Artinya, pendidikan di sisi lain sebagai sebuah kebutuhan, juga telah dengan setia menemani rangkaian panjang peradaban umat manusia. Dengan khazanah dan keluasannya, pendidikan mampu menjadikan manusia dari tidak tahu menjadi tahu.


Dalam tatanan personal atau individu, pendidikan dimulai ketika seseorang lahir dan berakhir saat kematian menjemputnya. Mengutip salah satu pepatah populer perihal pendidikan, “tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat”.


Dalam Islam, posisi ilmu atau pendidikan menduduki hierarki yang tinggi, di mana Allah SWT mengangkat derajat seseorang berdasarkan ilmu. Ilmu dapat memberikan segala hal yang bermanfaat ketika kita tahu dan mengimplentasikannya dengan baik untuk berjalan di jalan yang benar.


Berkembangnya zaman turut berpengaruh terhadap sesuatu yang mengikutinya, termasuk pendidikan. Konsep pendidikan ribuan tahun lalu pada realitasnya berbeda dengan konsep pendidikan hari ini. Akan tetapi tidak meninggalkan intisarinya, yaitu “mencerdaskan kehidupan masyarakat”.


Potret pendidikan hari ini sebenarnya masih jauh dari harapan. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya beberapa ketimpangan, antara lain masih banyak anak-anak putus sekolah pada usia produktif. Padahal mereka seharusnya menyibukkan diri untuk menempuh pendidikan karena sejatinya mereka adalah generasi muda harapan bangsa.


Selain itu, ada juga kualitas pengajar atau guru, sarana prasarana dan bahan ajar yang masih minim. Hal tersebut mendorong Indonesia untuk menduduki posisi rendah terkait kualitas pendidikan. Hal ini adalah PR kita bersama sekaligus sebagai tanggung jawab moral terhadap bangsa sendiri.


Pelajar sebagai salah satu kelompok masyarakat yang dipandang dengan sifat ke-cendekiawanan-nya, punya peran besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagai salah satu amanah muqaddimah Undang-Undang Dasar 1945.


Melihat kondisi pendidikan di Indonesia, terutama di Sulawesi Utara, yang kurang terbiasa dengan disiplin waktu, kurang saling menghargai sesama, kurangnya berbaur dengan sekolah atau instansi atau lembaga lainnya, sehingga bentuk kelemahan mental, sosialisasi untuk mendapatkan relasi dan inspirasi itu kurang.


Mungkin pemaknaan pendidikan bagi pelajar hanyalah sekolah untuk kerja dan kerja untuk mendapatkan uang. Mindset yang selalu menjadi prinsip hampir semua orang, terutama para pelajar yang bersikap pasif. Entah potensi apa yang bisa pelajar kembangkan untuk mendapatkan jati dirinya, sehingga paham akan kehidupan yang sangat membutuhkan ilmu dari pendidikan.


Ketika pelajar hanya bertujuan untuk mendapatkan pendidikan dan mendapat gaji yang cukup, maka ia akan terbiasa nyaman dengan hal-hal itu saja. Seperti kata pepatah “katak di dalam tampurung” tidak berkembang dan tidak kemana- mana.


Bagaimana bisa menjadikan Indonesia sebagai negara yang maju sedangkan berkembang saja sulit?

Pelajar harus menjadi orang yang berguna bagi nusa bangsa dan terlebih untuk agama. Jangan sampai terbodohkan dan terjajah oleh pikiran-pikiran luar. Jangan sampai kita menjadi budak orang lain. Tapi jadilah orang yang bermanfaat dalam kebenaran untuk mencari ridha Allah SWT, dengan mengamalkan ilmu yang sudah didapatkan. Tuntutlah ilmu dimanapun juga dan amalkan ilmu serta jadikanlah amalan sebagai potret untuk mendekatkan diri kepada-Nya.


Penulis: Elda Roring adalah Ketua Umum PW PII Sulawesi Utara (Sulut)

(***)

Baca Juga :  Jadi Korban, Poluakan Harap Dugaan Malpraktik Pendidikan Pascasarjana di UKIT Ditertibkan
banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan