Kerukunan Itu Mahal. Jangan Lengah Mengawalnya

Kerukunan Itu Mahal. Jangan Lengah Mengawalnya
Ilustrasi. (Sumber: IDNTimes)

MASYARAKAT maupun Pemerintah Kota Manado jangan cepat berpuas diri dengan capaian prestasi sebagai salah satu Kota Paling Toleran di Indonesia. Sebaliknya, seluruh elemen masyarakat harus bahu-membahu meningkatkan kewaspadaan terhadap setiap potensi perpecahan.

banner


Apalagi, seperti disampaikan Komandan Kodim 1309  Kolonel Arh Christian Noel Frederik Tanjong saat Rakor Penanganan Konflik Sosial Kota Manado, di Ruang Serba Guna Kantor Wali Kota Manado, Jumat (13/9/2019), saat ini kerukunan adalah barang yang sangat mahal di Indonesia.


Masalah sepele antargolongan masyarakat bisa saja menjadi jalan dan ruang menuju kerusuhan yang didalangi oknum tak bertanggung jawab. Kita harus belajar dari kejadian kerusuhan di sejumlah daerah maupun negara.


Perpecahan tidak dimulai dari atas, melainkan dari masyarakat paling bawah. Entah dimulai dari perkelahian pemuda, atau saling ejek antarwarga, yang selanjutnya digeser ke ranah SARA, hingga akhirnya berujung kerusuhan.


Memang kerukunan di Kota Manado sudah terbina sejak lama, sehingga banyak yang menganggap peristiwa kerusuhan di daerah lain sulit terjadi di daerah ini. Tapi bukankah hal ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi oknum yang tak ingin Manado rukun, dan selanjutnya memasang strategi dan taktik jitu untuk memecah belah masyarakat?


Kita perlu ingat bahwa kerusuhan tidak hanya terjadi antarumat beragama atau antargolongan saja. Hal ini pula yang mengakibatkan pecahnya Rusia menjadi beberapa negara. Jadi, jika minim kewaspadaan, bukan tidak mungkin peristiwa kerusuhan yang terjadi di Papua dan Papua Barat beberapa waktu lalu, bakal terjadi di Manado.


Selain itu, sinergitas antara Pemerintah Kota Manado, TNI dan Polri juga harus terus ditingkatkan. Komunikasi lintas sektor, seperti Rakor Penanganan Konflik Sosial harus terus dilakukan, dengan diimbangi implementasi hasil rakor secara menyeluruh.


Artinya, rakor jangan hanya dijadikan ajang kegiatan formalitas saja. Rakor harus mampu memberikan gagasan yang lahir dari kumpulan informasi akurat, untuk selanjutnya bisa diejawantahkan dalam sebuah program sederhana, baik oleh pemerintah, TNI, maupun Polri.


Dengan rakor itu pula, seharusnya pemerintah, TNI dan Polri mampu membaca setiap potensi konflik, sehingga bisa diantisipasi sedini mungkin. Apalagi, rakor ini dihadiri berbagai elemen masyarakat. Ya, kita jangan sampai lengah menghadapi potensi perpecahan.


(***)

Baca Juga :  Kusu-Kusu dan Karakter Warga Sulawesi Utara
banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply