Kematian Siswa SMP Kristen 46 Mapanget Masih Misteri, Legislator Ini Angkat Suara

Kematian Siswa SMP Kristen 46 Mapanget Masih Misteri, Legislator Ini Angkat Suara
dr Suyanto Yusuf. (Sumber: KlikNews)

KlikMANADO – Legislator Manado dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Suyanto Yusuf ikut angkat suara terkait kasus dugaan kekerasan fisik yang menyebabkan kematian Fanli Langihide, siswa SMP Kristen 46 Mapanget, dan diduga dilakukan oknum guru di sekolahnya.


Dr Anto, sapaan akrabnya, mengaku akan mengikuti perkembangan kejadian ini, karena kasus tersebut sudah masuk dalam ranah hukum. “Sesuai fungsi anggota dewan sebagai unsur Pemerintah Kota (Pemkot) Manado, yang mengawal Permendikbud Nomor 82 tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan,” ujarnya, Kamis (3/10/2019).


Dia pun berpendapat bahwa segala bentuk tindakan kekerasan fisik dan mental pada siswa yang dilakukan pendidik dan tenaga kependidikan dalam satuan pendidikan adalah perbuatan tidak berperikemanusiaan dan wajib mendapat hukuman.


“Setiap kasus kekerasan yang dilakukan dalam satuan pendidikan harus melalui Badan Kehormatan Etik Guru. Nanti BK guru yang akan menilai apakah kasus ini pelanggaran etik, perdata atau pidana. Kalau pelanggaran etik, maka BK langsung memberikan sanksi sesuai dengan tingkat kesalahannya. Kalau masalah hukum perdata dan hukum pidana diserahkan ke pengadilan dan kepolisian,” jelasnya.


Dia juga meminta Dinas Pendidikan membuat Standar Operasional Prosedur (SOP) pemberian sanksi bagi siswa, sesuai jenis pelanggarannya. “Kalau contoh kasus ini, oknum guru bisa diberikan sanksi pemberhentian mengajar sementara, dan bila memegang jabatan di sekolah harus dicopot,” tegasnya.


Dia berharap, kejadian ini memberikan pelajaran bagi guru dan tenaga kependidikan agar berhati-hati dalam memberikan sanksi bagi siswa. “Sebaiknya sanksi yang diberikan bersifat edukatif,” terangnya.


Dia menambahkan, dirinya bersama legislator lainnya akan melihat setiap masalah secara objektif berdasarkan data dan fakta. “Sebagai lembaga penerima aspiratif masyarakat, dalam hal ini DPRD bisa menjadi mediator,” ungkapnya.


“Apabila tindak kekerasan terjadi dalam satuan pendidikan, maka DPRD dan pemerintah kota tidak memberikan bantuan pada sekolah tersebut. Bahkan bisa mencabut izin operasionalnya,” sambungnya.


Sebagaimana diketahui, hingga saat ini kematian mendadak Fanli Lahingide siswa kelas 3 SMP Kristen 46 Mapanget Barat, Kecamatan Mapanget, Manado masih diselidiki aparat polisi, seperti dilansir harimanado.com.


Kapolsek Mapanget AKP Muhlis Suhani menjelaskan, otopsi sudah dilakukan di RS Bhayangkara. Namun hasilnya baru akan keluar pekan depan.


Sementara itu, ibu dari korban, Julin Mandiangan mengaku mendapat kabar dari kerabat Krendis Kodmanpode bahwa anaknya pingsan ketika menjalani hukuman lari oleh guru inisial CS, sekira pukul 08.00 Wita.


“Kami mendapat kabar Fanli pingsan di sekolah dan berada di RS AURI. Dan saat kami sampai di RS AURI, Fanli dalam keadaan tak sadar,” ceritanya dengan berlinang air mata.


Menurutnya, Fanli tetap di suruh lari meski mengeluh lelah, kemudian jatuh. “Ia disuruh lari keliling sekolah oleh guru (CS). Padahal Fanli sempat mengeluh kelelahan, tapi tak diizinkan istirahat. Lalu jatuh pingsan,” tuturnya sembari menuturkan, anaknya tak memiliki riwayat penyakit kronis.


Mandiangan juga menyerahkan anaknya untuk diotopsi, agar bisa mengetahui penyebab pasti kematian. “Kami memberikan ke pihak rumah sakit untuk diotopsi, agar supaya tidak tumpang tindih, baik dari pihak keluarga dan sekolah puas,” keluhnya.


Selain itu, kasus kematian anak tercintanya tersebut sudah diserahkan ke aparat kepolisian untuk diproses. “Saya mempercayakan sepenuhnya kepada pihak kepolisian untuk diproses sesuai dengan hukum yang berlaku,” tutup Mandiangan.


(Sahril Kadir)

Baca Juga :  9 Legislator Sulut ini Raih Forward Award 2014-2019
banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply