Kekuatan Magis Ngopi Jarod Mampu Membendung Hoax

Kekuatan Magis Ngopi Jarod Mampu Membendung Hoax
Suasana Jarod. (Sumber: Tempo)

Penulis: Sahril Kadir


SETIAP daerah identik dengan gaya hidup masing-masing masyarakatnya. Jika ditanyakan ke Saya, bagaimana dengan Manado, maka jawabannya adalah ngopi. Memang, secara sepintas ngopi merupakan kebiasaan masyarakat di daerah manapun itu, dengan ditandai berdirinya banyak kedai kopi. Namun Manado punya sesuatu yang beda. Jalan Roda, biasa disingkat Jarod, namanya.


Sejak puluhan tahun lalu, belum diketahui pasti kapan awalnya, kawasan yang dihimpit Pecinan dan Shopping Center ini sudah dimanfaatkan sebagai tempat ngopi andalan warga Manado.


Dinamakan Jalan Roda karena konon, saat masa penjajahan Belanda, kawasan ini dimanfaatkan sebagai stasiun kendaraan warga, pedati, yang dalam bahasa lokalnya disebut roda.


Ketika mobil telah menggantikan peran roda sebagai kendaraan pada pertengahan abad ke-20, masih ada roda dari pedalaman Minahasa yang diparkir di Jarod. Namun tidak lagi sebagai alat transportasi, melainkan khusus mengangkut bambu untuk dijual.


Pada perkembangannya, kendaraan bermotor mulai memadati Manado, sehingga semua pedati atau roda dilarang memasuki pusat kota lagi. Meski pedati tidak lagi terlihat di lokasi ini, nama Jarod tetap abadi. Seperti dilansir beritamanado.com, 5 Maret 2011 lalu.


Saat ini, di samping kiri dan kanan jalan yang panjangnya sekira 500 meter dan lebar 2,5 meter ini telah dipenuhi puluhan kedai kopi. Sedangkan badan jalannya jadi tempat duduk warga penikmat kopi, sehingga tidak ada lagi kendaraan yang bisa lalu lalang di situ.


Sejak pagi sekira pukul 05.30 Wita hingga malam, jalan ini selalu ramai dikunjungi warga dari berbagai latar belakang. Mulai dari penyamun, pedagang, pengusaha, politisi, seniman, aparat keamanan, hingga pejabat lokal. Bahkan mereka yang tak waras pun sering terlihat di situ.

Baca Juga :  Kabag Humas dan Protokoler Kembali Dijabat Fanmy Unsong


Tokoh-tokoh nasional juga diketahui beberapa kali terlihat singgah di tempat ini. Di antaranya Anggota DPD RI Periode 2014-2019 Benny Ramdhani, Ketua Syarikat Islam Hamdan Zoelva, Ketua Perindo Hari Tanoesoedibjo, mantan Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno, artis nasional Enda Ungu, hingga Presiden RI Joko Widodo.


Di kawasan ini tak tampak sama sekali jarak antarwarga. Warga dari berbagai golongan bisa duduk semeja untuk menikmati seduhan kopi ala Jarod dan membahas satu topik yang sama. Jadi wajar jika suasana ramai akan sangat terasa saat memasuki tempat ini. Dari tahun ke tahun, suasana ini tak pernah berubah.


Pun dengan tampilannya yang agak “kumuh”. Berkali-kali pemerintah berusaha melakukan pemugaran, tapi jarod saja terlihat seperti awalnya. Kalau pun berubah, itu hanya bagian luarnya saja.


Jarod memang beda. Bahkan menurut pakar otak dan mental dr Taufik Pasiak, tempat ngopi seperti ini tak ada duanya di Indonesia, alias hanya ada di Manado. “Tak ada yang seperti Jarod. Mau cari di manapun di Indonesia, tidak ada yang sama seperti Jarod,” ungkap tokoh yang sudah menerbitkan banyak buku bestseller, beberapa waktu lalu.


Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) Nasrullah juga selalu menyempatkan waktu singgah di situ saat berkunjung ke Manado. Menurut dia, Jarod memang beda. Bukan hanya karena menyuguhkan kopi lokal saja, tempat ini juga seakan menjadi pusat penyebaran informasi lokal maupun nasional di Kota Manado.

Ngopi Jarod Sebagai Kearifan Lokal

Masyarakat Sulawesi Utara umumnya, dan khususnya Manado akan bersepekat bila menyebut bahwa kearifan lokal di daerahnya adalah Mapalus dan Torang Samua Basudara. Hal ini disebabkan usia keberlangsungannya yang terhitung sudah sangat lama, bahkan telah mendarah daging.

Baca Juga :  Beberapa Titik di Kota Tomohon Longsor, Pemkot Cepat Tanggap


Padahal, ngopi jarod juga merupakan kearifan lokal, namun dalam bentuk kontemporer. Belum ada kesepakatan tentang hal ini. Tapi jika diperhatikan, di dalam ngopi jarod, terdapat nilai-nilai kebaikan yang berlangsung secara turun temurun, dari tahun ke tahun, sebagaimana definisi umumnya. Yaitu nilai sosial berupa silaturahmi, kebersamaan, dan kekeluargaan.


Tidak hanya itu, ngopi jarod juga berlangsung setiap hari, dan dilakukan oleh kebanyakan orang yang menjadi pengunjung tetap. Waktu kunjungannya juga seakan telah diatur sejak lama. Saat pagi, kita akan mendapati mayoritas pengunjungnya berasal dari kalangan politisi. Ketika siang, ngopi jarod dilakukan oleh para karyawan BUMN maupun BUMD. Sedangkan sore hingga malam akan diisi oleh para aktivis dan politisi.


Ngopi jarod memang telah melekat dan menjadi ciri khas Kota Manado, serta telah diakui masyarakat luas. Hal ini ditandai lewat kehadiran para tokoh lokal hingga nasional, pada momen-momen tertentu. Di situ, mereka ngopi dan membangun dialog terbuka, baik formal maupun nonformal. Siapapun bisa ikut nimbrung dalam dialog tersebut, tanpa mengenal latar belakang.


Saya ingat sekali, pada Sabtu (12/10/2019) sore lalu, Taufik Pasiak menggelar diskusi bertema Cinta dan Benci di kawasan yang diklaim pemerintah sebagai kawasan kuliner. Dialog itu ternyata tidak hanya diikuti oleh para aktivis saja. Bahkan, saat sesi tanya jawab, seorang warga tampak mengacungkan tangan sebagai tanda ingin memberikan pandangannya. Kesempatan pun diberikan kepadanya, hingga akhirnya dialog terjadi dengan bahasa yang bisa dimengerti banyak orang.


Mungkin saja, ada pihak-pihak tertentu yang ingin membantah dengan menyatakan bahwa ngopi jarod sama saja dengan ngopi di kedai kopi lainnya, sehingga tak layak disebut bagian dari kearifan lokal Manado. Namun saya meyakini bahwa pemikiran itu akan terbantahkan saat pihak itu mencobanya. Entah rasa kopinya maupun suasananya.

Baca Juga :  Torang Samua Basudara, Akar Penangkal Radikalisme dan Terorisme di Manado

Membendung Hoax

Jarod seakan memiliki kekuatan magis luar biasa untuk membendung hoax dan disrupsi informasi. Ngopi jarod tidak hanya sekadar menikmati kopi hasil olahan tradisional, menggunakan api yang berasal dari pembakaran kayu arang. Ngopi jarod juga membuat setiap orang dengan mudah berinteraksi, bertukar pikiran, dengan menggunakan bahasa yang bisa dimengerti oleh siapapun. Sehingga penelitian dan verifikasi terhadap sebuah kebenaran informasi bisa dilakukan secara lebih baik, karena pengunjungnya berasal dari berbagai kelompok masyarakat.


Memang, tidak mudah meredam hoax lewat dialog. Perbedaan pendapat sudah pasti bisa terjadi kapan saja. Namun ngopi jarod, sekali lagi, berbeda. Perbedaan pendapat hanya menjadi bumbu dialog saja, sehingga tak sampai pada sebuah perpecahan. Dialog yang sedang memanas pasti akan mencair ketika kopi ala jarod diteguk bersama.


Maka wajar jika menyebut, upaya membendung hoax, sebagaimana anjuran Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), yaitu melakukan cek dan ricek sebelum mencerna atau menyebarkan berita melalui berbagai jaringan sosial media (sosmed), seiring sejalan dengan aktivitas ngopi jarod selama ini.


Lokasinya yang terhitung lumayan panjang juga memungkinkan setiap orang untuk saling bersilaturahmi. Sebab, kondisinya yang tidak bisa dilewati kendaraan roda dua maupun roda empat, membuat setiap orang, mau tak mau, harus saling bertegur sapa. Minimal saling mengucapkan salam. Secara sederhana, kandungan nilai-nilai Mapalus maupun Torang Samua Basudara bisa diciptakan dan dihadirkan lewat ngopi jarod.


(***)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply