PT JRBM Minta Pemerintah Tegas Tertibkan Penambang Ilegal

PT JRBM Minta Pemerintah Tegas Tertibkan Penambang Ilegal
Proses pencarian korban longsor di pertambangan ilegal di Desa Bakan. (Sumber: BPBD Bolmong)

KlikBOLMONG – PT J Resources Bolmong (JRBM) mengaku merasa cemas dengan bencana tanah longsor, di lokasi tambang tanpa izin (tambang ilegal) di Desa Bakan, Bolmong, pada Selasa (26/2/2019).

Kecemasan satu-satunya perusahaan tambang legal di Bolmong tersebut bukan hanya karena banyaknya korban yang jatuh. Tapi juga lantaran lokasi bencana yang berada di kawasan konsensi PT JRBM. Lahan yang ditambang ilegal itu diketahui adalah areal penggunaan lahan (APL).


“Wilayah yang dijadikan sebagai lokasi pertambangan tanpa izin berada di wilayah konsensi PT JRBM. Namun lokasi longsor di luar di site operasi JRBM dan tanahnya masih milik perorangan,” kata Direktur PT J Resources Asia Pasifik Tbk PSAB Edi Permadi, kepada wartawan, Kamis (28/2/2019).


Edi mengaku terpukul dengan korban longsor di lokasi PETI yang jauh dari area operasi. Bencana yang menimpa delapan warga sangat menyentuh mereka. “Kami manajemen dan segenap PSAB menyampaikan turut berduka cita atas korban longsor di lokasi penambangan tanpa izin di Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow,” tutur Edi, sembari menambahkan bahwa proses evakuasi ikut melibatkan tim Rescue dari PT JRBM, anak usaha dari PSAB.


Edi juga mengaku prihatin dengan sepak terjang oknum pengusaha tambang. Diduga, para oknum pengusaha PETI yang menjadi pemicu warga untuk datang menambang area yang masuk di wilayah konsesi perusahaan.


Edi membeberkan, sejak tahun 2016-2018, JRBM selalu melaporkan aktivitas tambang ilegal kepada pemerintah dan aparat penegak hukum. Bahkan, lanjut dia, pada awal tahun 2019 sudah dilaporkan. “Sudah beberapa kali penertiban penambangan tanpa izin, namun penambang tanpa izin kembali melakukan aktivitas penambangan pasca operasi penertiban tersebut,” ketusnya.


Edi juga mengungkapkan, para penambang PETI menggunakan bahan kimia berbahaya seperti sianida dan merkuri. Limbah hasil penggunaan bahan kimia berbahaya tidak dikelola secara baik, sehingga mencemari lingkungan. Selain bahaya limbah, ancaman longsor setiap saat bisa terjadi.


“Kejadian Selasa malam bukan yang pertama, pada tanggal 4 Juni 2018 juga terjadi longsor dan 5 orang penambang tanpa izin meninggal dunia,” bebernya.


Supaya dampak-dampak negatif ini tidak terulang kembali, Edi meminta pemerintah supaya mengambil sikap tegas untuk menertibkan penambang tanpa izin tersebut. Pada Agustus 2018 silam, Polisi resmi menyatakan bahwa kawasan penambangan tanpa izin di Bakan telah ditutup, tetapi ternyata masih ada aktivitas penambangan bahkan dalam jumlah besar.


“Pemerintah harus tegas untuk menertiban penambangan tanpa izin karena dampak terhadap keselamatan dan lingkungan sangat besar,” kata Edi.

Baca Juga :  Lombok Diguncang Gempa 6,4 SR

(Sahril Kadir)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply