Refleksi Lima Tahun Banjir Bandang Manado

Refleksi Lima Tahun Banjir Bandang Manado
Banjir bandang yang terjadi lima tahun lalu. (Sumber: Sindonews)

SAYA ingat. Ternyata Senin (14/1/2019) hari ini, tepat lima tahun sudah bencana banjir bandang yang membawa duka mendalam bagi masyarakat Manado dan sekitarnya terjadi.

Ingatan itu muncul setelah salah satu pemilik akun media sosial Facebook, menuliskan catatan sederhana di dinding akunnya. “Hujan ini mengingatkan memori 14 Jan 2014,” tulis pemilik akun Facebook tersebut. Ya, bencana banjir bandang 14 Januari 2014 lalu, memang diawali curah hujan yang cukup tinggi, khususnya di pagi hari.


Kita mungkin sedikit atau bahkan telah melupakannya. Namun bagi masyarakat yang merasakan langsung dampaknya, sudah pasti kejadian itu masih cukup membekas. Saya ingat, bagaimana peristiwa itu berlangsung begitu cepat dan di luar prediksi.


Tak ada satu pun yang mengira, ketinggian air akan mencapai lebih dari 3 meter. Tak ada pula yang berharap sebegitu dahsyat dampaknya, hingga mampu melemahkan perekonomian saat itu. Banyak kendaraan rusak, korban jiwa melayang, dan rumah-rumah rusak.


Masih teringat pula di ingatan, bagaimana tangisan masyarakat saat menghadapi bencana itu. Bagaimana kecemasan warga saat melihat air bah terus meninggi hingga siang hari. Dan pada akhirnya, tak ada kata lain yang mampu terucap untuk menggambarkan suasana saat itu.


Di sisi lain, saya cukup yakin, bencana saat itu cukup membuat repot pemerintah. Apalagi diketahui, ketika itu, Kantor Wali Kota Manado yang menjadi sentral pelayanan pemerintahan Kota Manado juga digenangi air dengan ketinggian maksimal. Dengan kata lain, meski turut menjadi korban, pemerintah saat itu juga harus segera melakukan tanggap darurat sebagai kewajiban yang tak bisa diundur lagi.


Memang, secara teori bencana banjir bandang lima tahun lalu yang disebut-sebut sangat parah itu, berpeluang kecil terjadi lalu. Bahkan saya ingat, beberapa hari kemudian, pejabat Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Manado saat itu, Peter Assa, mengatakan bahwa banjir bandang yang sangat parah ini sangat kecil kemungkinannya terjadi lagi pada beberapa tahun ke depan.


Saat itu, Assa berpendapat, jika pun terjadi banjir, ketinggian air tidak akan setinggi itu. Banjir parah ini kemungkinan bisa terjadi lagi setelah puluhan atau belasan tahun ke depan. Begitu pendapat yang diungkapkannya, saat dialog bersama kami.


Namun, berapa pun kerugiannya, sedikit atau banyak, bencana tetaplah bencana yang harus diseriusi. Tidak hanya saat atau pascakejadian, melainkan juga sebelum terjadinya. Bukan hanya soal fisiknya, tapi juga tentang nonfisiknya.


Ya, kesiapan menghadapi bencana bukan cuma soal kesiapan fisik atau insfrastrukturnya. Mental dan diri masyarakat pun harus disiapkan. Manfaat pembangunan tanggul tidak akan terasa maksimal jika masyarakat sendiri tidak sadar dan siap akan bahaya bencana.



Sebab harus disadari, saat ini banyak anggota masyarakat, khususnya yang tinggal di bantaran sungai, menilai bahwa banjir adalah hal biasa. Saat banjir datang, kita cukup mengungsikan keluarga dan barang berharga. Setelah itu, menunggu bantuan dari pemerintah sembari membersihkan rumah dari lumpur akibat banjir.


Nah, kesadaran akan bahaya bencana inilah yang seharusnya terus dipupuk dan dikembangkan oleh masyarakat, dengan fasilitasi instansi terkait, seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) maupun Dinas Sosial, agar kerugian yang ditimbulkannya bisa diminimalisasi. Karena bencana bukan hanya bicara tentang bantuan nasi bungkus atau bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi rumah rusak.


Pada akhirnya, bencana tetaplah bencana. Kita, seluruh elemen masyarakat, mau tak mau, harus siap menghadapinya.


(*/Sahril Kadir)

Baca Juga :  Peringatan Dini Tsunami Dicabut, Ini Data Dampak Gempa Jawa Barat
banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply