‘Keributan’ AMCA dan HdR; Strategi Marketing Film Indonesia

‘Keributan’ AMCA dan HdR; Strategi Marketing Film Indonesia
Penulis, Sahril Kadir

SEJAK tayang perdana pada 8 November 2018 lalu, dua film Indonesia, ‘A Man Called Ahok’ (AMCA) dan ‘Hanum dan Rangga’ (HdR), menjadi perbincangan publik. Bahkan, hingga Selasa (13/11/2018) hari ini, dua film tersebut terus dibanding-bandingkan, mulai dari sisi jumlah penonton hingga kisahnya.

 

Entah apa latar belakang dari upaya membanding-bandingkan kedua film tersebut. Yang pasti, berdasarkan berbagai sumber yang dihimpun menyebutkan, ‘keributan’ ini diawali postingan salah satu netizen yang memposting kondisi kursi penonton dua film yang rilis berbarengan ini, yang kemudian membuat sejumlah pihak mengaitkannya dengan kondisi perpolitikan tanah air.

 

Pada dasarnya, wajar jika ada dua film atau lebih yang dibanding-bandingkan. Dan kami yakin bahwa upaya membanding-membandingkan sudah biasa di kalangan penikmat film. Apalagi jika film yang saling dibandingkan itu memiliki alur dan cerita yang nyaris sama, atau dibintangi oleh aktor atau aktris yang sama.

 

Beberapa waktu lalu, kita mungkin pernah mendengar upaya membandingkan film ‘Dilan 1990’ dan ‘#TemanTapiMenikah’, yang dilatarbelakangi oleh aktris utama dua film tersebut, yakni Vanesha Prescilla. Aktris muda ini menjadi bintang utama pada dua film, yang sempat ramai diperbincangkan kawula muda.

 

Upaya yang sama juga pernah dilakukan salah satu media online nasional ternama, terhadap lima film Indonesia yang rilis bersamaan, saat lebaran tahun 2018. Lima film tersebut adalah ‘Dimsum Martabak’, ‘Kuntilanak’, ‘Target’, ‘Insya Allah Sah 2’, dan ‘Jailangkung’. Perbandingan terhadap lima film ini juga diambil dari sisi jumlah penonton. Perbedaannya, perbandingan film AMCA dan HdR justru jauh menghebohkan ketimbang perbandingan film-film lainnya.

 

Berbicara film, tentu saja, sangat berkaitan dengan selera orang. Ada yang menyukai drama, horor, action, romantisme, adventure, dan ada yang peminat film biografi. Dengan kata lain, banyak atau sedikitnya penonton suatu film sangat bergantung pada selera.

Baca Juga :  Choirul Huda Layak Disandingkan dengan Totti

 

Selain itu, kehebohan yang terjadi, menurut saya, bergantung pula pada strategi marketing film. Mari sama-sama kita amati bahwa film AMCA maupun HdR, jika dilihat dari trailer yang tayang jauh hari sebelum dirilis perdana, begitu fenomenal. Kita mungkin tak menyadari, bahwa saat menyaksikan trailer dua film ini, masyarakat seakan dipancing untuk menyaksikan film secara lengkap.

 

Ya, trailer dua film yang disajikan sangat menonjolkan sisi sentimen masyarakat Indonesia secara umum. AMCA menonjolkan sisi historis seorang Ahok, sapaan akrab Basuki Tjahja Purnama. Apalagi, bagi sebagian masyarakat, sosok yang satu ini dinilai begitu fenomenal saat menjabat Wakil Gubernur hingga Gubernur DKI Jakarta. Sedangkan film HdR, dalam trailer yang ada, menampilkan polemik “Apakah Dunia Akan Lebih Baik Tanpa Islam?”, dengan bumbu romantisme Islami.

 

Dengan kata lain, pendapat saya, kehebohan ini adalah strategi marketing film yang sedang dilancarkan para cineas, untuk memancing masyarakat Indonesia meramaikan bioskop demi dunia perfilman Indonesia.

 

Dari sini pula, saya berpendapat, sebenarnya kelompok-kelompok cineas bisa mengevaluasi dunia perfilman Indonesia, termasuk terkait dengan minat masyarakat terhadap genre setiap film. Ya, ini pendapat saya.

 

(***)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply