Sebuah Catatan Ringan Korda ICI Sulut dari Barcelona

Sebuah Catatan Ringan Korda ICI Sulut dari Barcelona
Penulis, dr Harrold Sepang (Ujung kanan, tak bertopi). Sumber: (Facebook)

“Gemerlap Pesta Kota. Seolah Getar Flamenco Mengalun Jiwa. Kududuk Terhanyut Nuansa di sudut Semarak Plaza Catalonia”. Sepenggal lirik bait pertama lagu berjudul Barcelona, yang dibuat Fariz RM pada tahun 1987 memang terdengar syahdu.

 

Bahkan semakin eksotik karena lagu yang diciptakannya saat melanglang buana ke Eropa itu, diiringi sepenggal introlude akustik Flamenco dari seorang Eet Sjahranie. Seakan menggambarkan betapa indah dan eksotisnya Barcelona.

 

Pagi itu, di Apartemen via Pergolesi 31 Milano, dengan semangat menggebu, bergantian kita berempat mandi. Setingan keran ke arah air panas adalah hal yang lumrah terjadi setiap hari.

 

Suhu pagi itu sekitar 14 derajat. Kering sampai-sampai kedua hidung saya terasa perih dan mengeluarkan darah. Ternyata bukan saya saja. Dua orang dari rombongan kita mengalami hal serupa. Rombongan kita terbagi dua kelompok, masing-masing empat orang dan menempati dua apartemen berbeda.

 

Awalnya, rencana ke Barcelona untuk menyaksikan laga UEFA Champions League, dimana tuan rumah klub Catalan akan menjamu klub kesayangan kami, Inter.

 

Sebenarnya kami ingin bertualang dengan naik bus atau kereta saja. Tapi setelah dipertimbangkan dari berbagai sisi, seperti efisiensi, biaya, dan waktu lebih dari 13 jam via darat, kami semua sepakat untuk ke Catalunya via udara.

 

Sejak pagi kami sebenarnya sudah disibukkan dengan hal yang aneh. Si Alex, salah memasukkan email untuk konfirmasi tiket. Sedangkan pembelian tiket si Noval di-reject pihak maskapai karena masalah credit card.

 

Walau beberapa jam kemudian situasi mulai terkendali, si Noval terpaksa harus terbang sendirian dengan penerbangan direct ke Barcelona, 30 menit lebih dulu. Sedangkan kami bertujuh dari Malpenza harus transit di Roma. Jadi kesimpulannya, si Noval yang akan menjemput kita di Barcelona.

 

Penerbangan ke Roma berjalan lancar. Tanpa sengaja ketemu Dewi Irawan, seorang artis senior, kakaknya Ria Irawan. Putri Ade Irawan ini lagi trip dari Milan ke Roma untuk mengantar putrinya, Shadira, yang berencana kuliah sinematografi di Roma.

 

Ibu Dewi, suaminya orang Italia. Ketemunya di Amerika waktu kuliah. Kebetulan juga seorang Interista. Seru juga di pesawat ketemu orang Indonesia, dikasih referensi katering makanan Indonesia seharga 10€ per porsi dan bisa delivery.

 

Maklum, makanan Indonesia jadi barang langka beberapa hari terakhir ini. Ibu Dewi adalah mantan Ketua Kerukunan Warga Indonesia yang tinggal di Italia. Wajar referensinya banyak soal yang begituan.

 

Flight ke Roma sekitar 55 menit, kita berpisah di Roma. Saling bertukar nomor WhatsApp dan minta akun IG sama artis. Nah, pergumulan selanjutnya hari itu dimulai lagi saat berada di Roma.

 

Kami mendapat pemberitahuan bahwa pesawat yang akan kami tumpangi ke Barcelona, Ryan Air, delay lebih dari tiga jam dengan tanpa kepastian berangkat jam berapa.

 

Pemberitahuan itu, bagi kami, bagaikan disambar petir di siang hari. Kalau delay lebih dari tiga jam, bisa jadi kami tiba di Barcelona saat babak pertama match Barcelona-Inter sudah selesai.

 

Belum lagi perjalanan dari bandara ke Camp Nou mengalami macet. Wah, kayaknya bakalan singgah doang di Barcelona dan melewatkan tujuan utama yaitu menonton Inter.

 

Dengan berbagai pro kontra dan perdebatan, kami memutuskan membeli tiket penerbangan baru yang arrival-nya sekira pukul 19.30 waktu Barcelona. Estimasinya, kita bisa sampai Stadion Camp Nou sejam sebelum kick off 21.00 waktu di sana.

 

Dan pastinya, harus merelakan kesempatan berharga berkumpul dari jam 15.00 di Plaza Catalonia terus Corteo bersama teman-teman Curva Nord.

 

Harga beli tiket baru lumayan juga. Nyaris 200 Euro per tiket. Memang sih, kami mendapatkan kabar bahwa kompensasi dari Ryan Air adalah 250€ untuk tiap tiket karena harus delay lebih dari dua jam. Langsung saya terpikir dengan maskapai Indonesia. Kebetulan saya pernah mengalami delay lebih enam jam dan kompensasinya cuma diberi makan. Beda dengan Eropa, langsung diumumkan di bandara tentang refund-nya.

 

Selama nunggu di Roma, sempat juga ketemu teman dekat CN 1969, ternyata Curva Nord Lazio mau trasferta ke Marseile buat mengawal tim mereka berlaga di European League.

 

Anak-anak muda Lazio sangar juga. Mayoritas mereka dipenuhi tattoo, ada yang bertuliskan Lazio, gambar stadion Olimpico, logo Elang dan ujaran kebencian terhadap polisi. Tak heran malamnya baca berita di sosmed mereka rusuh di Kota Marseille, luar biasa anak-anak muda ini.

 

Perjalanan ke Barcelona berlangsung tanpa hambatan. Sesampainya di bandara langsung mencari taksi. Ternyata supir di sana tak bisa berbahasa Inggris. Dikejar mepetnya waktu kick off dan komunikasi yang tak bisa dua arah dengan sopirnya membuat perjalanan menuju stadion jadi boring.

 

Padahal seharusnya kota wisata seperti ini, sayang juga bila orang-orangnya kurang bisa berbahasa Inggris. Padahal semula ekspektasi waktu dari Milan, Barcelona itu asyik. Kata orang di Milan, suhunya lebih bersahabat dan lebih hangat.

 

Mendekati Stadion Camp Nou, argo taksi terlihat mulai menyentuh 30€ dan kepadatan lalu lintas yang minta ampun. Terpaksa kita turun lumayan jauh dari pintu masuk stadion.

 

Rombongan kita pecah dua, karena taksi tidak boleh lebih dari empat orang. Rasa jengkel mulai terasa. Sudah macet, kita juga harus berjalan lumayan jauh.

 

Rombongan kita mulai lari mencari Gate 21 tempatnya tribun fans tamu. Masih terbayang sampai saat ini kenekatan kita menerobos ribuan fans Barca, baik yang melawan arah maupun yang searah.

 

Camp Nou berbeda dengan San Siro yang berada di pinggiran kota dan punya areal sendiri. Letak Camp Nou di dalam kota. Jadi terbayang bagaimana sebelah stadion yang ada match berskala Eropa harus dilalui lalu lintas umum.

 

Saat berada di dekat Gate 21,  kabar buruk lagi-lagi harus masuk ke telinga saya. Polisi penjaga tidak mengizinkan kita masuk dari arah situ dan disuruh memutar dari sebelah.

 

Ceritanya, kita sudah di dekat gate, disuruh harus memutar berbalik arah ke pintu masuk yang harusnya bisa kita lewati karena sudah dekat. Caci maki dengan Bahasa Indonesia keluar dari mulut kami berempat, yang terpaksa harus lari lagi memutar lebih dari satu putaran lintasan stadion sambil memikul tas bawaan.

 

Melewati banyak kerumunan fans Barca yang juga mengejar waktu masuk gate, akhirnya bisa juga kita sampai depan gate. Setelah masuk, kita harus jalan sampai ke pintu masuk tribun stadion.

 

Sepanjang jalan ini dipenuhi polisi lengkap dengan senjata dan helm anti huru hara, serta anjing ras yang terus menggonggong. Sebelum naik ke tribun tamu, semua bawaan diperiksa. Bendera saya ditahan entah alasan apa. Saat ditanya, mereka hanya bisa berbahasa isyarat (lagi-lagi no English).

 

Teman yang satunya bahkan lebih parah lagi. Seluruh tas beserta isinya, yakni dompet, uang, bedak, air mineral, bahkan paspor yang sangat vital fungsinya malah ditahan. Jancuk terdengar berulang-ulang dari mulutnya.

 

Sudah kelelahan lari, barang-barang ditahan, menghadapi bentrokan antara fans tamu dengan polisi, steward stadion yang susah berbahasa Inggris, dan masih harus memikirkan mahalnya tiket pesawat dan tiket match yang harus dibeli via calo seharga hampir 200€, melengkapi keganjilan hari itu.

Baca Juga :  Jabat Sekkot Manado, Ini Rekam Jejak Micler Lakat di Pemkot Manado

Naik ke Curva Ospiti (istilah Italia untuk fans tamu) Camp Nou bukan hal yang mudah. Letaknya di baris ke lima paling atas. Jalan menanjaknya membuat saya terbayang bak jalan ke parkiran salah satu mall di Manado, terjal dan lumayan jauh dengan jalan kaki.

 

Ngos-ngosan demi sampai ke atas dan menyaksikan match langka di Champions League. Di tribun tamu itu, sekitar lebih 5.000 Interisti berkumpul. Jika dibikin perbandingan, jumlah Interisti, kayaknya lebih banyak atau seimbang dengan penghuni sektor belakang gawang Boixos Nois (fans garis keras Barcelona), meski di setiap sektor Camp Nou dipenuhi fans Barca.

 

Banner Curva Nord dipegang gagah oleh anak-anak muda Curva Nord, dan seperti biasà, melanjutkan tradisi tetap dengan cori-cori (chants) penyemangat, diselingi siulan kekecewaan kepada wasit yang malam itu kepemimpinannya banyak menguntungkan tuan rumah.

 

Tak heran cori sarkasme untuk wasit, polisi dan Puta Barça Puta Çatalonia terdengar jelas dinyanyikan CN69. Adrenalin saya juga ikut melonjak saat mendengar kata-kata tersebut sambil ikut bertepuk tangan dan bernyanyi bersama mereka.

 

Permainan sebenarnya menarik. Di babak pertama, meski menjadi tim tamu, Inter tetap saja bermain terbuka walau tanpa Nainggolan. Brozovic dan Perisic sebenarnya masih menahan nyeri belum pulih benar dari cedera, tapi tampaknya tetap dipaksakan Spaletti untuk mengimbangi lini tengah Barca. Skriniar keren karena beberapa kali bisa menang duel lawan Coutinho dan Suarez.

 

Perilaku Rafinha juga menjadi catatan tersendiri. Meski hanya sebentar berbaju Inter, saat mencetak gol dia memilih untuk tidak melakukan selebrasi. Standing ovation diberikan Interisti saat dia diganti di babak kedua.

 

Okelah, hasil full time tidak berpihak pada Inter. Tapi yang terpenting pengalaman luar biasa bersama Curva Nord dan Interisti lain di Curva Ospiti akan menjadi penghias memori otak ini. Akan selalu teringat bagaimana polisi mendorong-dorong saya menyuruh keluar kompleks stadion setelah mengambil kembali bendera yang disita sebelum masuk.

 

Itulah Barcelona, sebuah kota terbesar kedua di Spanyol setelah Madrid, dengan populasi 1,6 juta penduduk dan merupakan ibu kota wilayah otonomi Catalonia dan sangat terkenal dengan FC Barcelona-nya dan dengan banyak pujian terhadap Camp Nou sebagai stadion terbesar di Eropa dengan kapasitas sebanyak 99.354 tempat duduk, dan stadion ketiga terbesar di dunia, sudah pernah menyelenggarakan berbagai even internasional dan diberi empat bintang oleh UEFA, tetap saja memberi kesan yang tidak istimewa buat para “away fans”.

 

Dan pada akhirnya, ternyata perjalanan ke Barcelona dan Camp Nou tak seindah lagu dari maestro Fariz RM. “Hasta La Vista Mi Amor…” Penuh Cinta. Di hariku Kan Kembali… Kan Kuingatkan Janji…Cintamu Di Barcelona.

 

Catatan ini dibuat pada akhir Oktober 2018.

 

(***)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply