Torang Samua Basudara, Akar Penangkal Radikalisme dan Terorisme di Manado

Torang Samua Basudara, Akar Penangkal Radikalisme dan Terorisme di Manado
Penulis, Sahril Kadir

PADA tanggal 1-9 September 2018 lalu, Pemerintah Kota Manado menggelar event pariwisata Manado Fiesta 2018. Event ini diawali dengan Karnaval Fish and Coral (Fisco), yang tidak hanya memamerkan keragaman hayati di perairan Manado saja, tapi juga mempertontonkan kekayaan budaya di Ibu Kota Provinsi Sulawesi Utara ini.

 

Yang membuatnya menarik adalah, tidak hanya mempertontonkan budaya lokal, karnaval ini mengikutsertakan parade budaya nusantara, seperti Bugis, Batak, Jawa, hingga Papua. Bahkan jika dipersentasekan, sekira 70 persen peserta karnaval tampil dengan budayanya masing-masing. Sisanya hanya berupa kendaraan hias berbentuk ikan dan keanekaragaman hayati laut lainnya.

 

Karnaval ini seakan ingin dijadikan Pemerintah sebagai momentum berharga untuk menunjukkan kepada dunia, bahwa Manado adalah rumah kita bersama. Setiap orang, dari latar belakang agama dan suku apapun, berhak mendiami Manado, selama tidak bertentangan dengan undang-undang.

 

Ya, saat ini Kota Manado tidak hanya didiami oleh satu kelompok agama atau suku tertentu. Di kota ini, terdapat pemeluk agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Tidak hanya itu, saat ini juga sudah ada pemeluk agama Yahudi yang menetap di kota yang terkenal dengan 3B (Bubur Manado, Boulevard, dan Bunaken) ini. Mereka hidup berdampingan, secara aman dan nyaman.

 

Berbicara kesukuan, di daerah ini menetap masyarakat yang berasal dari berbagai suku bangsa di Indonesia, mulai dari Aceh, Papua, Bugis, Dayak, Bali, hingga Papua. Adat istiadat serta budaya pun dijalankan secara rutin tanpa ada yang melarangnya.

 

Berdasarkan hal itu, wajar jika dalam beberapa tahun terakhir ini, Kota Manado senantiasa mendapatkan predikat sebagai Kota Paling Toleran dan Paling Rukun di Indonesia dari berbagai institusi. Lantas apa sebenarnya yang membuat kerukunan dan keamanan di kota yang pada tahun 2018 ini berusia 395 tahun ini bisa tetap dipertahankan?.

 

Sejumlah argumentasi menarik sepertinya layak menjadi jawaban atas pertanyaan tersebut. Di antaranya adalah ketidakinginan masyarakat Manado untuk ikut merasakan pahitnya dampak konflik berbau SARA, hingga tingginya jiwa apatis mereka terhadap persoalan yang belum diketahui akar permasalahannya.

Baca Juga :  Sikapi Bom Surabaya, Ini Imbauan Tuange Kepada Warga

Semua argumentasi tersebut terasa tepat jika diamati hanya dengan cara sepintas. Namun, jika diperhatikan secara lebih luas lagi, Manado memiliki kearifan lokal yang telah mendarah daging di benak setiap anggota masyarakat. Adapun alasan-alasan selain itu, hanya menjadi akibat dari adanya kearifan lokal tersebut.

 

Torang Samua Basudara sebagai Kearifan Lokal Manado

Torang Samua Basudara“. Sejak beberapa tahun lalu, orang-orang sudah mengenal slogan warga Manado ini. Bahkan, para pejabat negara yang menyambangi Sulut, khususnya Manado, pasti akan mengakhiri pidatonya dengan memekikkan slogan ini.

 

Ya, slogan yang dimunculkan kembali EE Mangindaan saat menjabat Gubernur Sulut periode 1995-2000 ini memang luar biasa. Tak hanya sekadar motto, kalimat tersebut juga telah mendarang daging di lingkungan masyarakat.

 

Secara harfiah, kalimat singkat nan tegas ini berasal dari bahasa Manado, berarti kita semua bersaudara. Secara filosofis, sebagaimana diungkapkan mantan Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Manado Soleman Montori, kalimat ini mengartikan bahwa seluruh manusia dengan segala perbedaannya, memiliki sebuah kesamaan, yaitu sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

 

Namun, di sisi lain, Montori berpendapat bahwa krido Torang Samua Basudara tidak untuk menyamakan keragaman. Pemahaman ini sudah dipublikasikan dalam website resmi Pemkot Manado. Dengan kata lain, kalimat ini pada hakikatnya adalah sebuah penegasan untuk mengakui dan memahami akan adanya perbedaan dan keragaman tersebut.

 

Berdasarkan informasi yang dikutip dari berbagai sumber, slogan ini sebenarnya sudah ada sejak masa lampau, tepatnya pada masa penjajahan Belanda. Akademisi Prof A B G Ratu bahkan menyebutkan bahwa slogan ini berawal saat Belanda menahan dan mengasingkan tujuh orang perkasa yang berasal dari tanah Jawa di Manado, Sulut.

 

Dalam dialog bersama rombongan studi strategis Dalam Negeri Program Pendidikan Reguler Angkatan XLIX (PPAR 49) Tahun 2013 Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) RI, pada tahun 2013 silam, Ratu mengungkapkan bahwa aksi penjajah Belanda terhadap tujuh orang tersebut justru menimbulkan keprihatinan masyarakat setempat.

Baca Juga :  Ini Sikap Wali Kota Tomohon Terkait Teror Bom di Surabaya

Para tahanan itu pun akhirnya diberikan makanan dan pakaian, dan pada akhirnya berbaur dengan masyarakat lokal, termasuk menikahi wanita-wanita setempat. Ratu membeberkan bahwa sebelum menikah, biasanya para wanita membawa seekor ayam dan dua butir telur pada saat hari raya keagamaan umat Islam. Begitu pula sebaliknya, para tawanan ini mengunjungi keluarga wanita dengan membawa bahan yang sama saat perayaan Natal. Setelah menikah, mereka tinggal di Tondano, yang kini merupakan Ibu Kota Kabupaten Minahasa, tepatnya di Kampung Jawa Tondano (Jaton). Dari situlah slogan torang samua basudara lahir.

 

Berdasarkan sejarah tersebut, maka bisa dipastikan bahwa torang samua basudara layak disebut sebagai kearifan lokal masyarakat Sulut. Sebab, slogan ini adalah sebuah pandangan yang bersifat bijaksana dan bernilai baik, dan terus dipertahankan secara turun temurun hingga saat ini.

 

Memang, tidak seperti daerah lain yang seringkali berbentuk upacara adat istiadat ataupun diatur dalam perundang-undangan, torang samua basudara hanya bersifat slogan yang sudah tertanam kuat di benak setiap anggota masyarakat Sulut. Pelaksanaannya pun sederhana, karena berlaku sehari-hari dalam sosialisasinya di tengah masyarakat. Namun jika diperhatikan, slogan ini mampu berevolusi pada setiap tempat dan waktu, termasuk di era milenial saat ini.

 

Lihat saja, saat terjadinya konflik Maluku pada tahun 1999 terjadi, masyarakat Manado justru berani menampung para pengungsi dari daerah tersebut, tanpa membedakan latar belakangnya. Padahal, bukan tidak mungkin, aksi tersebut akan mengantarkan Manado atau Sulawesi Utara (Sulut) ke arah konflik serupa. Apalagi, secara geografis, posisi Sulut dan Maluku cukup dekat.

 

Sebenarnya, ancaman konflik pascapenampungan pengungsi itu cukup terbuka. Sebab, setiap pengungsi sudah pasti membawa informasi sesuai dengan versinya masing-masing. Tidak hanya informasi kengerian konflik, kekejaman yang dialami secara personal pun akan disampaikan secara blak-blakan. Hal itu membawa kemungkinan munculnya emosi dari masyarakat yang mendengarnya untuk melakukan aksi balas dendam.

Baca Juga :  Bom Surabaya, Dandim 1312 Imbau Warga Jangan Panik

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Masyarakat sama sekali tidak terprovokasi dan secara bersama-sama berupaya meredam informasi itu, dengan meyakinkan para pengungsi bahwa Manado adalah daerah yang aman dan nyaman untuk ditempati siapapun.

 

Berikutnya, saat ancaman radikalisme dan terorisme yang mengatasnamakan agama kembali mengemuka sejak tahun 2000, yang diawali bom Kedubes Filipina pada 1 Agustus 2000, hingga sekarang ini. Masyarakat nyiur melambai tetap meyakinkan dunia bahwa daerah yang ditempatinya itu paling aman dan nyaman.

 

Rasa Persaudaraan Jadi Penangkal Radikalisme dan Terorisme

Kini, seruan menolak radikalisme dan terorisme tidak hanya dikumandangkan Pemerintah Provinsi Sulut, Pemerintah Kabupaten dan Kota, maupun aparat keamanan saja. Seluruh golongan di daerah ini secara bersama-sama ikut menyerukan penolakannya terhadap setiap aksi yang dapat memecah belah masyarakat.

 

Caranya pun sederhana dan terhitung efektif. Yaitu bersama-sama mengawasi situasi dan kondisi lingkungan dan secara sadar melaporkan setiap kejanggalan yang terjadi di daerah tempat tinggalnya masing-masing.

 

Sulut, khususnya Manado, memiliki budaya Mapalus dan Pengucapan Syukur. Mapalus adalah sebuah sistem tradisional masyarakat berbentuk gotong royong, dengan prosedur kerja sama secara bergiliran oleh setiap anggota, untuk kepentingan bersama. Sedangkan Pengucapan Syukur merupakan tradisi masyarakat untuk memanjatkan rasa syukurnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkah yang telah diberikan selama setahun. Pengucapan Syukur ini digelar dengan diawali ibadah dan dilanjutkan makan bersama, dimana setiap sajian makanan disiapkan oleh setiap anggota masyarakat.

 

Dua budaya tersebut merupakan hasil dari kuatnya rasa persaudaraan dan saling memiliki antarsesama anggota masyarakat. Artinya, kuatnya rasa persaudaraan di masyarakat adalah embrio lahirnya Mapalus dan Pengucapan Syukur, yang notabene akan menguatkan kerukunan di masyarakat. Dari situlah, ancaman radikalisme dan terorisme yang bisa saja datang kapan saja akan mampu dihadang di kota ini.

 

(***)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply