Ini Sejarah Awal Mula Desa Ranotongkor (1)

Ini Sejarah Awal Mula Desa Ranotongkor (1)
(Foto: KlikNews)

KlikMINAHASA – Desa Ranotongkor, yang berada di Minahasa bagian Barat, genap berusia 181 tahun, pada Jumat (6/4/2018) hari. Berikut sejarah singkat desa tersebut, yang bersumber dari Hukum Tua Ranotongkor Rocky Leonard Kotulus.

 

Sejarah desa ini bermula pada 10 Januari 1969. Saat itu, VOC mengutus Robertus Padt-Brugge untuk mengikat perjanjian kerja dengan para pemimpin Minahasa, yang diwakili Supit dari Tombariri, Paat dari Tomohon, dan Lontoh dari Tonsarongsong.

 

Supit, lebih dikenal di kalangan supranatural sebagai Opo Supit dari Tombariri, diketahui memiliki seorang pembantu Loway, dan lebih dikenal dengan sebutan Loway Tu’a.

 

Sekira 200 tahun kemudian, kembali muncul seorang bernama Loway, yang hidup hingga tahun 1912. Namun tidak disebutkan secara detail silsilah keluarga Loway yang satu ini.

 

Apakah dia adalah anak atau cucu dari Loway Tu’a atau bukan? Tak ada catatan soal itu. Namun, para supranatural menyebutnya sebagai Loway Muda.

 

Loway Muda inilah yang memiliki peran yang sangat besar dalam sejarah perjalanan kampung Ranotongkor, mulai dari kampung tua hingga di lokasi sekarang ini. Bahkan disebutkan, Loway Muda adalah Tumani desa ini beserta teman, pembantu dan pengikutnya.

 

Menurut penuturan tua-tua kampung, kata Hukum Tua Rocky Kotulus, Loway bersama temannya, Wohko, adalah pelaku sejarah terbentuknya Wanua Ranotongkor. Mereka menetap di Lawanan, perkebunan yang kini masuk wilayah kepolisian Tara-Tara. Selanjutnya, mereka beralih tempat di daerah Makalew, dan membentuk satu komunitas.

 

Ismail Pogalin, mantan Hukum Tua Ranotongkor pada tiga zaman, mengungkapkan bahwa Loway dan Wohko, serta pengikutnya, selalu hidup berpindah-pindah, hingga akhirnya mereka diserang oleh sekelompok katak berbagai ukuran.

 

Baca Juga :  Waspada, Cuaca Ekstrem Terjang Sulawesi Utara

Loway yang adalah pemimpin kelompok pun akhirnya memanggil Wohko, untuk mencari satu hari yang tepat dalam rangka pencarian lokasi pemukiman baru. Wohko pun ditunjuk menjadi Tonaas Menanalinga, untuk menyiapkan upacara Sumempung.

 

Dari upacara ritual tersebut, didapati bahwa mereka harus menuju ke barat, dari tempat dilaksanakannya ritual. Petunjuk itu pun diikuti, dan tiba di Perkebunan Lolah milik keluarga Gigir.

 

Di situ, mereka beristirahat dan menggelar upacara Rumages pada malam hari, serta menunggu petunjuk selanjutnya. Tak lama kemudian, terdengar bunyi burung Manguni dari kejauhan sebelah kanan, sebanyak sembilan kali dengan merdu, yang dianggap sebagai terkabulnya permohonan.

 

Hal itu menimbulkan reaksi yang sangat cepat dari mereka yang menunggu di lokasi upacara, dan melupakan petuah Opo Loway untuk tetap tidak menyalakan api. Opo Loway pun marah dan menghardik pengikutnya. (Baca halaman selanjutnya)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply