Menguak Sejarah Watu Pinawetengan

Menguak Sejarah Watu Pinawetengan
Ritual yang sedang dilakukan di batu besar tersebut. (Foto: Facebook)

KlikMINAHASA – Warga Minahasa pasti mengenal Watu Pinawetengan. Apalagi, batu berukuran besar yang berada di Desa Pinabetengan, Kecamatan Tompaso, tepatnya di lereng Gunung Soputan, Kabupaten Minahasa itu menyimpan sisi magis religius.

 

Dikutip dari Tribun Manado, masyarakat sekitar mempercayai bahwa batu ini berbentuk selayaknya orang yang sedang bersujud. Ada pula yang melihatnya mirip dengan peta pulau Minahasa. Namun para arkeolog berpendapat, Watu Pinawetengan pada zaman dulu, yaitu sekitar tahun 1000 SM, sempat digunakan nenek moyang Minahasa untuk berunding.

 

Tempat ini disebut menjadi lokasi pembagian sembilan sub etnis Minahasa, yaitu Tombulu, Tontembuan, Tonsea, Tonsawang, Tolowur, Pasan, Ponosakan, Siao dan Bantik. Juga digunakan untuk membahas berbagai masalah.

 

Hal itu didasari oleh adanya goresan-goresan yang membentuk banyak motif pada batu tersebut. Seperti motif alat kemaluan laki-laki dan perempuan, daun, dan kumpulan motif yang tak diketahui maknanya.

 

Watu Pinawetengan

Watu Pinawetengan. (Foto: Facebook)

 

Roy Pantouw dalam akun facebooknya mencatat bahwa pada masa lalu, tanah Minahasa bernama Malesung. Nama itu diambil berdasarkan letaknya yang terdiri dari perbukitan, pegunungan, dataran tinggi, dan dikelilingi lautan.

 

Dia menyebutkan, orang pertama yang hidup di tanah ini adalah Karema, yang merupakan seorang Walian (Imam) wanita, lalu seorang wanita bernama Lumimuut dan seorang pria yaitu Toar. Lumimuut dan Toar dipertemukan Karema sebagai sepasang suami istri.

 

Toar dan Lumimuut akhirnya tinggal dan melahirkan anak dan cucunya di daerah yang disebut Wullur-Mahatus. Wullur-Mahatus ada di daerah selatan Minahasa. Selanjutnya, keturunan Toar Lumimuut semakin bertambah banyak hingga di daerah Watu Nietakan di Wulur Mahatus.

 

Watu Pinawetengan

Ritual. (Foto: Facebook)

 

Dari sinilah terjadi pembagian golongan masyarakat dari keturunan Toar Lumimuut yang terdiri dari golongan Makarua Siou (2 x 9), yang mengatur kegiatan keagamaan dan adat istiadat, golongan Makatelu Pitu (3 x 7), yaitu golongan Teterusan yang terdiri dari para prajurit dan pimpinannya, dan golongan Pasiowan Telu yang terdiri dari rakyat biasa, petani, dan pemburu.

Baca Juga :  Ini Sejarah Munculnya Kalender Hijriah

 

Karena jumlahnya yang terus bertambah, banyak masyarakat dari keturunan Toar Lumimuut tersebut akhirnya memutuskan untuk berpencar mencari tanah baru, serta membuka tanah bermukim yang baru.

 

Namun, kondisi tersebut justru menimbulkan masalah, seperti sulit berkomunikasi, saling berebut wilayah, dan pertikaian antar golongan. Masalah itu muncul karena tidak adanya penentuan maupun cara pembagian yang adil untuk memilih dan menentukan lokasi lahan baru.

 

Toar Lumimuut akhirnya memerintahkan anak-anaknya dari golongan Makatelu Pitu untuk mengumpulkan semua penghulu dari golongan-golongan yang ada, agar permasalahan yang timbul segera teratasi.

 

Golongan Makatelu Pitu dipilih karena posisi mereka pada waktu itu netral, sehingga bisa menjadi juru damai dan penengah. Tempat untuk bertemu dan bersama-sama mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi pun dicari.

 

Akhirnya ditemukan sebuah tempat di kaki pegunungan Tonderukan. Di situlah mereka berkumpul bermusyawarah untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Di tempat inilah, tepatnya pada sebuah batu di kaki pegunungan Tonderukan, diadakan musyawarah pembagian wilayah dan pembagian suku Malesung.

 

Selanjutnya, mereka berikrar untuk bersatu, meski hidup berkelompok dan berbeda wilayah, serta bersatu menghalau serangan-serangan dari luar, termasuk tekanan dan serangan dari daerah Bolaang Mongondow, sekitar abad ke-15.

 

Setelah menghalau serangan bangsa Spanyol pada tahun 1617 hingga 1645, nama tanah Malesung ini berubah menjadi Maesa atau Mina Esa, yang berarti menjadi satu, dan selanjutnya berkembang menjadi Minahasa.

 

Makanya, tempat yang menjadi lokasi musyawarah atau perundingan dinamakan Watu Pinawetengan, yang berarti batu tempat pembagian. Pinawetengan sendiri, dalam makna tua Minahasa adalah janji atau ikrar yang disepakati bersama.

 

Roy Pantouw mengungkapkan, batu ini ditemukan pertama kali oleh JGF Ridel pada tahun 1881. Dalam catatan penelitiannya terungkap bahwa Watu Pinawetengan, yamg dulunya bernama Watu Rerumengan ne Empung, ada sejak abad ketujuh Masehi.

Baca Juga :  Rohingya, Antara Masa Lalu, Kini dan Masa Depan

 

(Tim)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply