Tonaas Walian adalah Aliran Kepercayaan?

Tonaas Walian adalah Aliran Kepercayaan?

KlikMANADO – Beredarnya informasi di sejumlah media, termasuk Wikipedia, bahwa Tonaas Walian adalah aliran kepercayaan, dibantah pimpinan organisasi penghayat kepercayaan Minahasa, Melvin Katoppo.

 

Melalui KlikNews, dia menegaskan Tonaas Walian bukan aliran kepercayaan, melainkan sebagai strata pemerintahan di tanah Minahasa. “Yang ada agama Adat Suku Malesung,” katanya, Jumat (10/11/2017).

 

Dia mengaku sudah beberapa kali menyampaikan kritikannya terhadap pemberitaan tersebut, termasuk Wikipedia. Namun hingga kini, belum juga ditanggapi atau dikoreksi.

 

Dia sebelumnya mengaku heran dengan adanya pemberitaan tersebut. “Apalagi salah satu yang menginformasikannya adalah Wikipedia. Kok bisa ada. Sumbernya dari mana?” ketusnya.

 

Dia menjelaskan, Tonaas Walian adalah semacam tokoh atau sebagai strata pemerintahan di tanah Minahasa. “Ini berawal dari Rukun Taranak. Setiap rukun, ada yang menjadi pemimpin atau pelindungnya,” ungkapnya.

 

Seniman sekaligus budayawan asal Sulawesi Utara Jessi Wenas, pernah menjelaskan tentang Tonaas Walian pada Abad ketujuh di dalam Manadominahasa.blogspot.co.id. Dia menjelaskan, Tonaas dan Walian merupakan dua golongan pemimpin Minahasa.

 

Walian, dijelaskannya, berasal dari kata “Wali”, yang berarti mengantar jalan bersama dan memberi perlindungan. Golongan ini, kata Wenas, mengatur upacara agama asli Minahasa, sehingga lebih disebut golongan Pendeta.

 

Mereka mempunyai keahlian membaca tanda-tanda alam dan benda langit, mengamati munculnya bintang-bintang seperti ‘Kateluan’ (bintang tiga), ‘Tetepi’ (Meteor) dan sebagainya, untuk selanjutnya menentukan musim menanam, dan menghitung posisi bulan dan matahari dengan berpatokan pada gunung.

 

Selain itu, golongan Walian juga ahli menghafal urutan silsilah hingga puluhan generasi sebelumnya, menghafal cerita-cerita dari leluhur-leluhur Minahasa yang terkenal di masa lalu. Tidak hanya itu, golongan ini ahli menenun kain, keranjang, mengayam tikar, sendok kayu, gayung air.

Baca Juga :  Ratusan Mahasiswa Unsrat Unjuk Rasa Tuntut Keadilan

Golongan kedua adalah Tonaas yang berasal dari kata ‘Taas’, yang menjadi nama pohon kayu besar yang tumbuh lurus ke atas.

 

Golongan Tonaas inilah yang menentukan di wilayah mana rumah-rumah dibangun untuk membentuk sebuah Wanua (Negeri) dan menjaga keamanan negeri maupun urusan berperang.

 

Menurut Wenas, sebelum abad ke-7 masyarakat Minahasa berbentuk Matriargat (hukum ke-ibuan), yaitu golongan Walian wanita yang berkuasa menjalankan pemerintahan, dengan Dewan 18 orang leluhur dari tiga Pakasaan (kesatuan walak-walak purba).

 

Dari 18 leluhur itu, enam diantaranya berasal dari Tongkimbut (Tontemboan sekarang). Yaitu Ramubene dan suaminya Mandei, Riwuatan Tinontong (penenun) dan suaminya Makaliwe yang berdiam di wilayah yang sekarang adalah Mongondow, Pinu’puran dan suaminya Mangalu’un (Kalu’un sama dengan sembilan gadis penari), Rukul dan suaminya yang bernama Suawa berdiam di wilayah Gorontalo, Lawi Wene dan suaminya Manambe’an (dewa angin barat), dan Maka Roya (penyanyi Mareindeng) dan suaminya Manawa’ang.

 

Enam leluhur lainnya berasal dari Tombulu. Yaitu Katiwi dengan suaminya Rumengan (Gunung Mahawu), Katiambilingan dengan suaminya Pinontoan (Gunung Lokon), Winene’an dengan suaminya Manarangsang (Gunung Wawo), Taretinimbang dengan suaminya Makawalang (gunung Masarang), Wowriei dengan suaminya Tingkulengdengan (dewa pembuat rumah, dewa musik kolintang kayu), dan Pahizangen dengan suaminya Kumiwel ahli penyakit dari Sarangsong.

 

Sementara enam leluhur sisanya berasal dari Tontewo (wilayah timur Minahasa). Mereka adalah Mangatupat dengan suaminya Manalea (dewa angin timur), Poriwuan bersuami Soputan (gunung Soputan), Mongindouan dengan suaminya Winawatan di wilayah Paniki, Inawatan dengan suaminya Kuambong (dewa awan rendah atau kabut), Manambeka dewa angin utara, istrinya tidak diketahui namanya kemudian istri Lolombulan.

 

Pemimpin panglima perang pada zaman pemerintahan golongan Walian adalah anak lelaki Katiwei (istri Rumengan) yang bernama Totokai. Dia menikah dengan Warangkiran puteri dari Ambilingan (istri Pinontoan).

Baca Juga :  Ini Profil Singkat Empat Pahlawan Nasional 2017

 

Pada abad ke-7, terjadi perubahan pemerintahan. Pada waktu itu di Minahasa yang sebelumnya dipegang golongan Walian wanita, beralih ke pemerintahan golongan Tonaas Pria. Sejak saat itu, masyarakat Matriargat Minahasa yang tadinya menurut hukum ke-Ibuan berubah menjadi masyarakat Patriargat (hukum ke-Bapaan), yang berbentuk pemerintahan dengan dewan sebanyak 21 orang leluhur pria

 

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Mahkamah Konstitusi telah mengabulkan gugatan Pagar Demanra Sirait, Nggay Mehang Tana, Arnol Purba dan kawan-kawan, pada Selasa (7/11/2017) lalu.

 

Gugatan tersebut berisi tuntutan agar penghayat kepercayaan bisa dicantumkan dalam kolom agama di KTP. Sayangnya, saat dikroscek pada beberapa media termasuk Wikipedia, tercantum bahwa Tonaas Walian adalah aliran kepercayaan di Minahasa, Sulawesi Utara.

 

(Sahril Kadir)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

One Response

  1. Erick ReneeNovember 19, 2017 at 2:56 pmReply

    web anda cakap sekali dan juga cantik, dari risalah dan rancangan webnya amat mempesona, aku benar-benar percaya website ini sanggup naik dan heboh visitornya tak diperbolehkan log gan pariwara di facebook ataupun IG, ramai orang memakai itu gan, saya sarankan coba pakai promosi sms atau publisitas gtu mesti ramai

Leave a Reply