Belajar dari Jokowi

Belajar dari Jokowi
Taufik Tumbelaka. (Foto: cahayamanado)

LANGKAH khusus yang diambil Pak Jokowi tentang kebijakan internal sebenarnya bukan hal yang baru.

 

Tidak sedikit para Tokoh di negara yang dianggap sudah maju secara demokrasi mengambil langkah-langkah khusus. Ini diambil guna memaksimalkan perolehan “derajat” dukungan publik terhadap Tokoh tertentu yang sedang memegang mandat rakyat dan juga menciptakan kemudahan komunikasi politik terhadap sejumlah kebijakan dalm bentuk program-program yang digulirkan.

 

Ini penting karena semua dalam upaya memperkuat legitimasi publik sehingga derap langkah kebijakan dapat respon positif dengan muara efektifitas dan efisiensi energi pemerintahan.

 

Khusus untuk Pak Jokowi, dampak positif politiknya sudah terasa dengan kenaikan secara signifikan prosentase popularitas dan elektabilitas dari tahun ke tahun, bahkan konon tahun ini telah ada survey di akhir Agustus 2017 yang menunjukkan posisi di atas 60%.

 

Ini adalah buah dari kebijakan internal termasuk dalam hal penguatan tim yang diperkuat sosok-sosok yang tidak biasa, yang bekerja profesional dan juga sangat fokus pada “job desk” tanpa agenda kepentingan pribadi.

 

Muncul pertanyaan, bagaimana dengan Sulawesi Utara? Rasanya (maaf) terlalu narsis jika ada tokoh di daerah ini yang kebetulan memegang tampuk kekuasaan publik, kemudian merasa telah melakukan kebijakan yang sama dengan Pak Jokowi.

 

Terlihat tidak ada tokoh yang melakukan langkah politik modern seperti Pak Jokowi. Dan ini fakta. Memang tidak perlu sama tapi minimal dengan arah pandang yang relatif sedikit banyak, mirip.

 

Jika diambil satu sampel, maka yang paling “pas” rasanya adalah Dwi Tunggal Sulut OD-SK. Kedua sosok yang manunggal secara politik ini, walaupun belum genap memimpin setengah periode, rasanya sudah cukup dikenal di seantero Sulut.

 

Namun jika jeli melihat fakta sosial dan politik di lapangan, maka nampaknya pengenalan publik tersebut terhadap sosok OD-SK hanya sebatas sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sulut. Tidak lebih dari itu.

 

Tidak sedikit publik yang tidak mengenal OD-SK secara personility atau kepribadian. Hal ini salah satunya dikarenakan OD-SK jarang diberikan ruang atau media untuk “unjuk gigi” dalam arti menunjukkan jati dirinya via interaksi dengan publik seluas-luasnya dengan beragam cara interaksi lapangan.

 

Jika ingin bicara sedikit lebih jauh, khususnya sejumlah kebijakan yang bersifat eksternal, maka tidak cukup banyak masyarakat paham sampai batas minimum tentang yang dikandung maksud dari kebijakan-kebijakan strategis OD-SK.

 

Bahkan di internalpun masih terlihat ada oknum yang terasa gagal paham alias cuma stel tau ato tau stel (maaf, memakai ala Manado).

 

Ada kejadian menarik belum lama ini, yang rasanya bisa dimasukkan sebagai ungkapan kendala besar dari OD-SK. Yaitu saat dalam suatu kesempatan berpidato, Gubernur Dondokombey mengangkat masalah *Dendam Kekuasaan dan Dendam Kemiskinan* di hadapan sejumlah “Barisan internal pendukungnya”.

 

Ungkapan sindirin keras ala OD selaku seorang gubernur ini banyak membuat orang tersenyum simpul, bahkan ada kalangan yang menginterpretasikan ungkapan OD dengan makna khusus, banyak yang mangkage alias tidak siap mental saat OD-SK yang merupakan “jagoan” yang didukung akhirnya duduk di singgasana kekuasaan.

 

Pertanyaan besarnya, apa yang akan dilakukan OD-SK terkait Dua Dendam itu? Ini menjadi “Pekerjaan Rumah” yang besar, khususnya dalam hal mencari sosok-sosok super human yang benar-benar tulus “memberi diri” untuk membantu OD-SK, tanpa “azas manfaat” hidden agenda kepentingan pribadi oknum.

 

Selamat Hari Jadi Sulawesi Utara
Salam Kasih, Taufik Manuel Tumbelaka

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply